oleh

Opini — Merawat Sinjai Sebagai Bumi Panrita Kitta

Oleh : Muhlis Pasakai
*Kepala SMK Muhammadiyah Sinjai. Tinggal di Tondong Kecamatan Sinjai Timur Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan.

SINJAI, paparazziindo.com. Sebuah daerah mendapat julukan karena potensi khas atau produk unggulan daerahnya atau prestasinya di bidang tertentu yang dikenal masyarakat luas atau sejarahnya yang melegenda adalah sebuah kebanggaan bagi masyarakatnya.

Begitupula Kabupaten Sinjai. Sematan nama Bumi Panrita Kitta atau Wanua Panrita Kitta menjadi kebanggaan tersendiri bagi warganya.

Terlepas dari layak atau tidaknya Sinjai menyandang sematan tersebut, Bumi Panrita Kitta sudah menjadi nama yang familier untuk Kabupaten Sinjai dan dikenal oleh daerah lain. Pertanyaannya adalah apakah orang Sinjai memahami betul tentang penamaan tersebut?, apakah Sinjai memiliki ikon utama yang merepresentasikan julukan tersebut?.

Seminim yang saya ketahui tentang hal ini telah saya ulas secara kritis di Harian Amanah pada tahun 2017 sebelum koran tersebut diakuisisi oleh Bosowa menjadi Harian Saudagar.

Sebagai orang Sinjai, saya tentu merasa sangat bangga dengan nama Bumi Panrita Kitta. Sebuah nama yang menurut saya sangat erat kaitannya dengan intelektualitas di zamannya, keulamaan dan kepakaran. Kendatipun ada semacam tanggung jawab besar yang harus dipikul oleh setiap generasi agar nama tersebut tidak hanya menjadi sekadar hiasan yang artificial.

Melestarikan kepiawian dibidang literasi “kitta misalnya, atau sekurang-kurangnya memodernisasi kitta menjadi buku, sehingga budaya baca tulis menjadi ciri khas keunggulan warga Sinjai atau adanya sejenis asosiasi yang menjaring semua warga Sinjai yang kompeten dan produktif dalam menghasilkan karya tulis.

Untuk mengawal dan melestarikan Bumi Panrita Kitta, warga Sinjai harus memiliki kesadaran dan tanggung jawab untuk merawat dan menciptakan atmosfer yang sarat dengan nilai-nilai kepanritaan.
Hal pertama yang harus dibangun adalah melahirkan para panrita, yaitu cendekiawan agamis atau ulama, karena panrita kitta sendiri adalah istilah yang identik dengan ulama. Semua ini lokomotif utamanya ada di perguruan tinggi.

Saat ini di Sinjai terdapat beberapa perguruan tinggi swasta yang dipelopori oleh persyarikatan Muhammadiyah. Pemerintah dan didukung oleh masyarakatnya harus memiliki perhatian besar terhadap hal ini. Selain itu, keberadaan perguruan tinggi di daerah juga dapat memiliki multi effect yang sangat positif. Kelahiran para panrita juga akan menghasilkan karya-karya intelektual yang dapat dijadikan dasar kebijakan pemerintah. Inilah pilar pertama Bumi Panrita Kitta, yaitu harus dapat ditunjukkan melalui peradaban akademik.

“Bumi Panrita Kitta” juga harus dirawat dengan menjaga harmonisasi kehidupan untuk menciptakan kenyamanan dan keamanan bersosialisasi. Hal ini dapat diwujudkan melalui sinergitas antar kelompok/ komunitas dengan berbagai latar, khususnya ormas atau lembaga Islam sebagai representasi yang paling dekat dengan istilah panrita kitta. Lembaga-lembaga Islam ini, baik berwujud ormas atau yayasan pendidikan dan lainnya harus menjadi simbol kerukunan dan persatuan. Egoisme, gengsi dan dominasi harus dijauhkan untuk mengedepankan etika dalam berinteraksi. Membuka diri, dialektis dan kerja nyata adalah udara segar bagi kesehatan antar kelompok.

Untuk menjaga muruah Bumi Panrita Kitta juga harus ditandai dengan kedewasaan dalam mengelola dinamika perbedaan. Perbedaan-perbedaan dalam pilihan politik misalnya. Cacian, hinaan, intimidasi serta propaganda negatif adalah contoh buruk terhadap pendidikan politik. Parahnya lagi ketika semua itu dibiarkan terjun bebas melalui media-media sosial.

Rivalitas adalah sebuah konsenkuensi dari demokrasi, tapi ruang untuk mengekspresikan itu harus dapat dikendalikan. Mengapa diskusi melalui forum resmi dengan menjunjung tinggi prinsip-prinsip perdebatan tidak lebih diutamakan ketimbang medsos. Hoax, rendahnya pengendalian diri dan miskin dari kebesaran jiwa terhadap kekalahan adalah hal-hal yang tidak selaras dengan semangat wanua panrita kitta.

Membanggakan Sinjai sebagai Bumi Panrita Kitta juga seharusnya berbanding lurus dengan religiusitas masyarakatnya. Sederhana saja, lihat aktifitas keagamaannya, lihat masjidnya sejauh mana ia ramai dengan jamaah, lihat generasinya segairah apa mereka terhadap ilmu dan agamanya, lihat pemerintahnya sepeduli apa terhadap pilar pembangunan keagamaan. Peran-peran keagamaan seperti ini diharapkan tumbuh menjadi kekuatan jiwa dan ruh masyarakat untuk menekan watak kriminal dan kerakusan serta tingkah destruktif lainnya.

Budaya antre, kesadaran terhadap sampah, tutur bahasa dan persaudaraan adalah contoh nilai-nilai karakter yang harus didorong dan terus dikampanyekan untuk menambah bobot predikat Kabupaten Sinjai sebagai bumi panrita kitta.

Jika tidak ada kesadaran kolektif untuk mewujudkan semua ini, seharusnya kita malu selalu mengaku-ngaku daerah kita disebut bumi panrita kitta.
Semoga bermanfaat.
Allahu Alam bi al-Shawab. (*)

Rabu, 24 Oktober 2018.

Editor/Ashari

Facebook Comments