Kisah Anak Yatim, Anggota Paskibraka Istana Negara Asal Sinjai Yang Bermimpi Jadi Polwan

oleh -1.906 views

Paparazziindo.com — Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia di Istana Negara Tahun 2019, bukan tanpa alasan bagi Ulfiatussaah bergabung di Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka).

Ulfiatussaah yang akrab disapa Uul merupakan putri terbaik asal Kabupaten Sinjai. Ia mewakili Provinsi Sulawesi Selatan sebagai anggota Paskibraka di Istana Merdeka Jakarta berdasarkan hasil seleksi.

Sebelumnya, siswi yang saat ini duduk di bangku kelas X IPA SMAN 7 Sinjai Tengah, telah melalui proses seleksi yang cukup ketat hingga akhirnya dinyatakan lolos ke tingkat Nasional.

Saat berangkat ke Jakarta pada 25 Juli 2019 lalu, gadis kelahiran 12 Januari 2003 ini menceritakan perjuangannya untuk bisa mewakili Sinjai, khususnya Provinsi Sulawesi Selatan.

“Kaget campur haru kalau saya ternyata terpilih jadi Paskibraka ke tingkat Nasional. Ini tentunya berkat dukungan dari orang tua secara moril dan khususnya dari Pemkab Sinjai,” katanya, minggu (18/8/2019).

Menjadi Paskibraka ternyata impian anak kedua dari pasangan Murniati Yunus dan Badawi yang terobsesi sejak mengeyam bangku SMP. “Sejak SMP memang dia selalu cerita jika dikemudian hari kelak dia bisa menjadi anggota Paskibraka. Sebagai ‘single parent’ kreatifitas dan kemauan anak jika itu sifatnya positif justru kita harus dukung,” tutur Murniati, ibunda Uul dibalik telepon.

Sebagai orang tua, kata Murniati, dirinya tidak pernah menyangka yang terpilih di Nasional itu anaknya. Hingga ia pun mendukung anaknya untuk ikut Paskibraka, mulai dari seleksi tingkat sekolah, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga nasional.

“Saya selalu mengingatkan ke Uul, jika ingin menjadi anggota Paskibraka, maka harus berlatih dengan tekun dan bersungguh-sungguh,” katanya.

Murni bercerita bahwa fisik yang memadai yang dimiliki Uul ternyata memendam sebuah cita-cita. Uul kata dia pernah mempunyai cita-cita untuk menjadi Polisi Wanita.

“Dulu dia pernah menyinggung kalau niatnya untuk menjadi Polwan. Tapi saya bilang bersungguh-sungguhlah belajar kalau nasib tidak akan kemana,” pinta Murniati.

Menurutnya, Uul merupakan sosok anak pendiam. Tugas sebagai anak gadis tentunya membantu orang tua di ladang atau serabutanpun dia lakoni.

Meskipun tak adanya sosok ayah yang mendampingi, Uul tetap bersemangat bersekolah. Murniati sebagai tulang punggung keluarga
perjuangannya untuk menyekolahkan anaknya membuahkan hasil yang manis.

“Dia itu anak yatim dari sejak kelas V SD. Dia anak yang rajin dan tekun belajar. Saya selalu berdoa yang terbaik buat dia dan anak-anak saya yang lain. Bahkan setelah di tetapkan berada di tim 8 membuat dia semakin terharu. Bahkan di sela-sela istirahat sontak dia memeluk saya dan berkata coba kalau bapak masih hidup,” ucap murniati mengenang sosok almarhum suaminya. (*)

Editor/Ashari

Facebook Comments